motivasi

Orang Jujur Tidak Sekolah - Andri Rizki Putra

07.35



ISBN : 9786022910626

Judul : Orang Jujur Tidak Sekolah

Penulis : Andri Rizki Putra

Rilis : Oktober 2014

Halaman : 264 hlm

Penerbit : Bentang Pustaka

Bahasa : Indonesia

Genre : Literatur Indonesia, Motivasi, Pengembangan Diri, Semi Biografi



Sinopsis :

Rizki yang awalnya menaruh harapan besar pada sekolah yang mampu mengajarkan banyak hal, seketika patah hati. Hanya karena menolak lembar sontekan jawaban ujian yang beredar di kalangan para siswa, Rizky dianggap aneh. Belum lagi gara-gara keterlambatannya membayar SPP setiap bulan, Rizki nyaris menjadi sasaran sindiran para guru tiap pengambilan rapor tiba.

Diskriminasi yang terjadi berkali-kali kali membuat Rizki mengambil keputusan besar: berhenti dari sekolah. Ia memilih belajar dengan caranya sendiri. Menciptakan sistemnya sendiri.



Review :

Bisa dikatakan bahwa buku ini berhasil membuat saya jadi menyukai buku non-fiksi, padahal sebelumnya saya tidak terlalu berminat dengan buku-buku non-fiksi. Yang saya sukai hanya novel :p namun setelah membaca buku ini saya jadi ingin membaca berbagai buku non-fiksi lain yang sejenis ini. Itu artinya, buku ini berhasil memengaruhi pikiran saya. Kalau sebuah buku berhasil memengaruhi pikiran saya, itu artinya buku itu adalah buku yang bagus dan berkualitas.

Saya beruntung bisa membaca buku ini lebih cepat dari yang saya kira. Karena jika tidak, saya akan lebih terlambat lagi mengenal sosok inspiratif dari penulis ini. Sedikit cerita, sekitar akhir tahun 2014 atau awal 2015, (saya lupa :p) seorang teman di goodreads merekomendasikan saya untuk membaca buku ini. Dan setelah saya baca sinopsisnya, saya pun tertarik dan berjanji akan membacanya suatu hari nanti. Tidak langsung saya baca karena ada buku-buku lain yang lebih urgent untuk saya baca dan alasan lainnya adalah bahwa buku ini merupakan buku non-fiksi. Namun ketika penerbit mizan (imprint dari penerbit bentang pustaka) mengadakan diskon besar-besaran saat hari buku sedunia untuk hampir semua produk bentang pustaka, saya pun menemukan buku ini. Dan tanpa pikir panjang saya pun langsung membelinya. 

Dari halaman awal buku ini, saya sudah tertarik. Dan semakin tertarik lagi ketika halaman demi halaman saya lewati. Saya dibuat kagum dengan penulis muda ini. Pikiran-pikirannya sungguh dewasa untuk anak seusianya. Ia menolak kunci jawaban UN yang memang sudah menjadi tradisi di hampir seluruh sekolah-sekolah di negara kita ini. Di saat semua teman-temannya menggunakan kunci jawaban itu, ia tetap berdiri teguh dengan pendiriannya. 

Banyak hal-hal buruk yang ditemukannya di sekolah, bukan hanya masalah UN. Hal itu membuatnya tidak lagi memercayai sekolah. Ia pun berhenti sekolah dan belajar sendiri secara autodidak selama satu tahun dan mengikuti ujian kesetaraan. Habis lulus UN, dia juga lulus masuk UI dan lagi-lagi ia belajar secara autodidak tanpa bimbingan siapa pun. Dan ketika lulus dari UI, ia mendapat predikat cum laude serta berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu tiga tahun. Belum lagi, selama kuliah dia tidak hanya aktif di kegaiatan akademik, tapi dia seorang aktivis di kampusnya. Nah sampai sini, saya sangat malu pada diri sendiri yang jauh ketinggalan dengan kak Rizki ini dan tidak ada apa-apanya. 

Kalau dilihat sekilas, rasanya hal tersebut hampir mustahil untuk dilakukan. Bagaimana tidak? Tanpa bimbingan siapa pun ia dituntut untuk memahami seluruh mata pelajaran di sekolah dari kelas 1 SMA sampai dengan kelas 3 SMA. Belum lagi, ia harus bisa membuat laporan bayangan kinerjanya selama ini. Kak Rizki ini benar-benar menciptakan sistemnya sendiri! 

Saya terpana akan usahanya selama belajar autodidak itu, kalau saya di posisinya saya yakin saya tidak sanggup melakukannya. Bukannya saya pesimistis atau tidak mau berusaha, melainkan saya sendiri sadar batas kemampuan saya. Kalau saya lakukan, dijamin saya pasti langsung sakit hanya dalam beberapa hari. Buat yang penasaran apa yang membuat saya terpana baca saja sendiri bukunya. 

Ganteng, pintar, rajin ibadah (sebenarnya saya tidak tahu persis tapi kepercayaannya pada Tuhannya membuat saya cukup yakin. Ia selalu percaya bahwa Tuhan akan menolongnya dan selalu memberikan yang terbaik untuknya), pekerja keras (ia selalu memberikan usaha terbaiknya), rendah hati (ia selalu menganggap bahwa dirinya tidak sebegitu hebat seperti yang dikira banyak orang), peduli terhadap sesama (ketika ia mendapatkan bantuan dari pihak sekolah karena ia berprestasi, ia memikirkan nasib teman-temannya yang sama dengannya namun tidak berprestasi sepertinya), tidak peduli omongan nyinyir orang lain tentangnya (banyak sekali komentar negatif saat ia putus sekolah), dan berhati mulia serta lucu. 

Itulah hal-hal yang saya simpulkan tentang sosok kak Rizki ini. Saya katakan ia berhati mulia karena kegigihannya dalam membangun YPAB (Yayasan Pemimpin Anak Bangsa). Ia rela menjalankan bisnis non-profit demi pemerataan pendidikan bagi anak-anak putus sekolah. Sementara sering kali saya dibuat senyum-senyum sendiri setiap kak Rizki menulis kata 'hahaha' atau 'hehehe' agak gimana gitu :D 

Yang saya katakan diatas, kedengarannya seperti terlalu menyanjung seolah-olah kak Rizki ini sosok yang sempurna padahal tidak ada manusia yang sempurna. Ya, saya tidak tahu persis lah kan saya tidak kenal sama orangnya :p hanya baca buku semi biografinya. 

Selain kagum dengan penulisnya, saya juga kagum dengan sosok ibunya. Dari kecil, kak Rizki sudah bergantung pada ibunya. Saya kagum dengan beliau karena berhasil mendidik anaknya sehingga tumbuh menjadi pribadi seperti ini dan menjadi anak yang membanggakan. Saya tidak tahu kenapa setiap kali melihat orang yang sukses dan membanggakan, saya lamgsung teringat dengan ibunya. 

Saya sangat merekomendasikan buku ini. Karena meskipun buku ini termasuk buku non-fiksi tapi cara penulisannya sangat mudah untuk diikuti. Selain itu banyak pelajaran dan kalimat-kalimat 'jlebb'  yang bisa kita pelajari darinya. Memang agak nampar di beberapa bagian. Tapi jujur, saya benar-benar salut :)). 

Two thumbs up deh pokoknya ya kak buat kakak :D 




4/5 star for Orang Jujur Tidak Sekolah.  

Fantasy

Fantastic Beasts and Where to Find Them - J.K. Rowling

18.52


ISBN : 1408803011

Judul : Fantastic Beasts and Where to Find Them

Penulis : J.K. Rowling

Penerbit : Bloomsbury Publishing Plc

Rilis : Juli 2009

Halaman : 123 hlm

Bahasa : Inggris

Genre : Fantasy



Sinopsis :

A copy of Fantastic Beasts & Where to Find Them resides in almost every wizarding household in the country. Now Muggles too have the chance to discover where the Quintaped lives, what the Puffskein eats and why it is best not to leave milk out for a Knarl.

Proceeds from the sale of this book will go to Comic Relief, which means that the pounds and Galleons you exchange for it will do magic beyond the powers of any wizard. If you feel that this is insufficient reason to part with your money, I can only hope that passing wizards feel more charitable if they see you being attacked by a Manticore.

- Albus Dumbledore


Review :

Ini pertama kalinya bagi saya baca buku fiksi yang versi aslinya, dalam edisi bahasa Inggris. Begitu tahu buku ini akan segera difilmkan, saya ingin segera membaca bukunya terlebih dahulu. Dan pada akhirnya saya pun melakukan pemesanan di Periplus. 

Setelah membaca bukunya dan menonton trailer filmnya, saya berpendapat bahwa nantinya akan banyak sekali perbedaan antara buku ini dan filmnya. Kalau kita menonton trailer-nya, film ini akan mengisahkan perjalanan Newt Scammander (si tokoh utama dalam film) ke New York dalam melakukan penelitian terhadap hewan-hewan buas dalam dunia sihir Harry Potter. Newt Scammander sebenarnya adalah salah satu karyawan di Kementrian Sihir. Ia melakukan perjalanan tersebut untuk menulis sebuah buku yang nantinya dijadikan buku pelajaran oleh Harry Potter dan kawan-kawannya di Hogwarts.

Namun, kalau berdasarkan bukunya kejadiannya tidak persis seperti itu. Memang benar Scammander melakukan perjalanan dan penelitian mencari hewan-hewan buas tersebut, tapi bukan perjalanan itu yang menjadi fokus utama. Di buku, perjalanan itu hanya terdiri dari beberapa lembar, sisanya lebih banyak penjelasan tentang klasifikasi hewan-hewan buas tersebut dari A sampai dengan Z.

Saya mengibaratkannya dalam buku pelajaran sejarah. Di buku, dijelaskan bahwa dulu Indonesia pernah dijajah Belanda dan Jepang, aksi perlawanan yang dilakukan oleh gerilyawan, sampai dengan penjelasan tentang Perang Dunia II. Semua itu memang dijelaskan, namun dalam versi singkat. Akan tetapi kejadian sebenarnya tidak sesingkat itu. Banyak peristiwa-peristiwa lainnya yang tidak dimasukkan dalam buku, hanya yang penting-penting saja.

Nah, begitulah dengan perbedaan antara buku ini dan versi filmnya nanti. Ketika menonton trailer-nya saya menemukan banyak sekali (hampir semua) adegan dalam film itu yang tidak ada dalam bukunya. Di buku, Scammander hanya menjelaskan secara singkat mengenai hal tersebut.

Kalau dipkirkan, sebenarnya hal ini sangat wajar mengingat untuk mengadaptasi buku ini menjadi film bukan hal yang mudah karena buku ini seperti bukan buku fiksi kebanyakan. Jika kita membaca buku ini, rasanya seperti menjadi siswa Hogwarts. Kita belajar, karena memang buku Fantastic Beasts and Where to Find Them ini merupakan buku pelajaran yang digunakan di Hogwats.



Newt Scammander adalah penulis khayalan yang dibuat oleh J.K. Rowling untuk menulis buku ini. Sehingga membaca buku ini kita akan merasa penulisnya adalah Scammander bukan J.K. Rowling. Informasi tambahan, bahwa petualangan Scammander itu terjadi sekitar tujuh puluh tahun sebelum Harry Potter membaca bukunya.

Membaca buku ini membuat saya semakin merindukan Harry Potter. Apalagi di buku tersebut, kita akan menemukan banyak sekali coretan-coretan yang dilakukan oleh Harry, Ron, dan Hermione. Bagi saya ada beberapa yang saya sadari itu tulisan siapa namun beberapa lainnya saya tidak tahu siapa yang melakukannya :p Sepertinya mereka bertiga belajar dalam satu buku. Tapi saya mengasumsikan bahwa pemilik sebenarnya adalah Harry Potter karena di halaman awal ditulis seperti ini :



Hal yang membuat saya menyukai buku ini adalah rasa kagum saya pada J.K. Rowling yang memiliki imajinasi yang begitu luar biasa. Dalam penjelasan hewan-hewan buas A – Z tersebut, dijelaskan detail setiap hewan-hewan itu. Apa yang mereka makan, bentuk fisik mereka, kemampuan dan kegunaan mereka, tempat tinggal mereka, dan masih banyak lagi. Hewan-hewan tersebut pun ada yang saya sadari kapan mereka muncul dalam serial film Harry Potter dan ada juga yang tidak saya sadari atau memang tidak ditampilkan dalam filmnya. (sebenarnya saya lebih meyakini memang hewan-hewan itu tidak ada dalam filmnya, entah kalau bukunya karena saya tidak baca buku Harry Potter).

Definisi hewan buas yang selama ini saya pahami adalah hewan yang memiliki tubuh besar, ganas, liar, dan mematikan serta suka merusak. Tapi sepertinya definisi tersebut berbeda dengan yang ditetapkan oleh Kementrian Sihir. Hewan buas tidak selamanya ganas dan liar bahkan ada yang jinak. Mereka mengkategorikan hewan-hewan tersebut sebagai hewan buas atau “beast” adalah dengan melihat apakah hewan tersebut memiliki kecerdasan, ketangkasan, dan kegunaan.



Hewan yang tidak memiliki kegunaan namun memiliki ketangkasan meskipun buas dianggap sebagai “beast”. Misalnya Basilisk dan Acromantula. Sementara hewan jinak yang memiliki kegunaan pun dianggap “beast” juga, misalnya Unicorn, Centaur, dan Flobberworm. Dan sebenarnya masih banyak lagi.

Dan yaaahhh, pada akhirnya saya sangat menyukai buku ini. Meski mungkin akan banyak perbedaan, saya tetap menantikan filmnya dengan tidak sabar. xD


4/5 stars.

Fantasy

The Young Elites - Marie Lu

21.31


ISBN : 9789794339091

Judul : The Young Elites

Penulis : Marie Lu

Penerjemah : Prisca Primasari

Penerbit : Mizan Media

Rilis : November 2015

Halaman : 428 hlm

Bahasa : Indonesia

Genre : Young Adult, Fantasy



Sinopsis :

Semua orang ketakutan. Malfetto adalah jelmaan iblis.

Wabah berdarah yang nyaris memusnahkan nyaris semua penduduk negeri, memunculkan kengerian baru. Segelintir orang yang selamat menjadi malfetto, orang-orang terkutuk. Apalagi orang-orang terkutuk itu memiliki kekuatan supernatural dan dapat membunuh sesuka hati. Kerajaan membentuk pasukan inkuisisi untuk memburu mereka karena dianggap berbahaya dan mengancam pemerintahan.

Kehidupan Adelina Amouteru berubah total ketika dia kehilangan mata kirinya dan rambutnya berubah sewarna perak. Dia malfetto. Sang ayah yang merasa malu, berusaha menjualnya. Adelina menolak dan berusaha kabur. Malangnya, dia tertangkap oleh pasukan inkuisisi dan hendak dijatuhi hukuman mati. Pada hari eksekusi, seorang pemuda misterius bernama Enzo menyelamatkan Adelina. Ternyata Enzo adalah pemimpin Dagger Society, sekelompok Elite Muda yang berencana menggulingkan pemerintahan. Karena tidak punya pilihan lain, Adelina bergabung dengan mereka. Namun ketika tiba waktunya melakukan kudeta, Adelina dihadapkan pada pilihan sulit: mengkhianati Dagger Society atau mengkhianati adik perempuannya sendiri. Apa pun yang dipilihnya, kematian mungkin menunggunya. 



Review :

Dari awal novel ini sudah berhasil membuat saya terkagum-kagum. Ceritanya sungguh menarik sekaligus keren. Saya jarang membaca novel fantasi, karena biasanya novel-novel jenis ini tidak akan selesai hanya dengan satu novel. Pasti akan ada sekuel-sekuel berikutnya alias ber-seri. Dan The Young Elites ini pun merupakan salah satunya. Tapi, saya malah membeli dan membacanya. Suatu hal yang sangat jarang saya lakukan.

Ada penyebab mengapa saya sering kali malas membeli novel-novel ber-seri. Itu dikarenakan saya orangnya tidak sabaran. Saya malas menunggu novel berikutnya terbit sementara saya sudah dibuat setengah mati penasaran. Yang kedua, membeli novel jenis ini akan menghabiskan banyak biaya. Kalau sudah baca novel pertama rasanya tidak mungkin untuk tidak membaca kelanjutan cerita di novel selanjutnya. Tapi sekali lagi, saya melawan rasa malas itu. Rasa penasaran saya lebih besar dari rasa malas saya. Saya sudah cukup banyak membaca review tentang buku ini, dan responnya sungguh bagus. Buku ini juga ada dimana-mana setiap kali saya membuka akun sosial media saya, di twitter, instagram, dan goodreads. Dan rasa penasaran saya pun semakin menjadi-jadi.

Ketika tahu penulis favorit saya menjadi penerjemah untuk novel ini, saya sadar bahwa diri saya sendiri memerintahkan untuk membeli novel ini tanpa keraguan dan itulah yang terjadi. Saya membelinya lalu membacanya. Sebelum membaca novel ini, saya cukup sering membaca review bahwa novel ini beraura gelap, kelam, dan suram. Segala hal yang menyangkut dengan hitam pekat, hal yang identik dengan kegelapan. Seketika saya semakin paham sekaligus merasa senang bahwa penulis favorit saya itu ditunjuk sebagai penerjemah novel ini mengingat karya-karyanya juga memiliki aura yang nyaris selalu suram dan gelap. Dan terjemahannya sungguh bagus. Saya tidak merasa kesulitan membacanya ataupun merasa bosan seperti yang biasanya saya temukan di novel-novel terjemahan. Ya, bagi saya peran penerjemah sangat penting dalam novel terjemahan. Karena ada beberapa novel yang di novel aslinya bagus sementara di terjemahannya novel itu menjadi kurang bagus.

Saya suka sekali cerita pada novel ini, benar-benar keren. Alasannya karena saya memang mudah menyukai cerita sejenis ini, tentang sekelompok anak muda yang memiliki kekuatan supernatural, kerajaan, bangsawan, dan cinta. Membaca novel ini membuat saya teringat dengan novel The Mortal Instrument. Keduanya hampir sama. Sama disini dalam artian keduanya identik dengan para tokohnya yang sering kali memakai jubah gelap, tudung di kepala, punya kekuatan supernatural, dan bangsawan. Saya semakin menyukai apabila cerita jenis ini juga memiliki sisi romantis.

Saya sangat suka hubungan yang terjalin antara Adelina dan Enzo. Saya juga menyukai hubungan kakak beradik Adelina dan Violetta, mengingatkan saya pada film animasi Frozen. Saya juga menyukai para tokoh yang ada dalam novel ini. Terutama Adelina dan Enzo. Saya berharap mereka berdua bersatu di novel selanjutnya, The Rose Society. Saya berharap Enzo bangkit lagi dari kematiannya (ahh sedikit spoiler  >.<) saya tidak tahu kenapa saya selalu suka karakter tokoh yang kelam, mungkin itu sebabnya saya selalu suka karya kak Prisca Primasari. Dan para tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang demikian.

Saya suka tokoh yang memiliki wajah tampan yang dibaluti dengan aura dingin. Tampan namun dingin. Begitulah. Terlebih lagi kalau dia bangsawan sehingga terlihat lebih berkelas. Dan begitulah Enzo. Meski terkadang dia juga memiliki sisi lembut setiap kali berdua saja dengan Adelina. Justru ini yang saya suka, seorang tokoh yang hanya mampu menunjukkan kelembutannya hanya pada orang yang ia sayangi. Mungkin karena karakter tokoh dalam novel ini juga membuat saya semakin menyukai novel ini. Rasanya memang selalu begitu. Kalau saya menyukai cerita dalam novel itu biasanya saya juga menyukai para tokohnya.

Saya begitu terhanyut saat membaca novel ini sampai-sampai saya bayangkan setiap adegannya. Bahkan ada beberapa kalimat dan paragraf yang saya ulangi, lalu kemudian merenung, menghela nafas. Hal yang biasa saya lakukan ketika novel itu sudah benar-benar menarik perhatian saya. Saya membayangkan kalau novel ini dibuat dalam bentuk visual, pasti sangat bagus. Saya merindukan nonton film dengan cerita yang seperti ini. Setelah The Mortal Instrument tidak dilanjutkan, hanya pada novel pertama, City of Bones. Saya berharap The Young Elites segera diangkat ke layar lebar dan para tokohnya memiliki wajah rupawan. Terutama untuk Enzo, Teren, dan Tristan. Saya selalu suka kalau lihat aktor ganteng. Oke abaikan.

Tidak sabar untuk segera membaca The Rose Society >< tapi sayangnya novel ini belum diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Benar kan hal yang menjengkelkan tadi. Tapi tidak apa-apa, yang penting saya sangat suka novel ini. Sangat sangat suka. Dan saya benar-benar merekomendasikannya.



4.5/5 star

Fiction

Pesan Moral Dari Buku Lelaki Harimau

17.08



Beberapa hari yang lalu, saya selesai membaca buku LELAKI HARIMAU karya salah satu penulis Indonesia terbaik, Eka Kurniawan. Buku itu, meski tipis tapi memberikan pesan moral yang teramat penting. 

"Karena nila setitik rusak susu sebelanga." 

Pribahasa diatas sangat cocok menggambarkan isi buku ini secara keseluruhan (setidaknya bagi saya). Konflik yang diangkat dari buku ini sebenarnya bermula dari satu titik permasalahan yang sesungguhnya amat kecil, meskipun ada hal-hal lain yang turut menjadi pemicu. Titik yang amat kecil tersebut sebenarnya adalah surat. Ya, hanya selembar surat. Sementara hal yang menjadi pemicu adalah kemiskinan dan watak.

Seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya bahwa buku LELAKI HARIMAU ini memiliki alur cerita yang sebetulnya sangat pendek, namun karena pergantian sudut pandang dan plot yang maju mundur membuat buku ini tampak seolah-olah panjang. Salah satu isi dari ‘plot yang mundur’ itu menceritakan tentang bagaimana kedua orang tua Margio bertemu untuk pertama kalinya hingga mereka menjadi sebuah keluarga dan memiliki anak.

Kalau kita kembali ke masanya ‘Margio’, kita tahu bahwa orang tua Margio bukanlah contoh orang tua yang baik, mereka selalu saja bertengkar. Ayah Margio selalu menyiksa ibu Margio, memukulnya dengan berbagai alasan. Sementara sang ibu suka sekali memancing kemarahan suaminya tetapi ia sendiri tidak pernah melawan saat dihajar habis-habisan.

Dulu, dua orang ini pernah saling jatuh cinta. (sebenarnya saya tidak tahu apakah ayah Margio memang menyayangi ibu Margio, tetapi ibu Margio pernah jatuh cinta pada ayah Margio). Namun, rasa cinta sang ibu untuk suaminya suatu hari sirna karena surat. Nuraeni (ibu Margio) dan Komar (ayah Margio) sebenarnya dijodohkan. (untuk selanjutnya mari kita menyebut masing-masing dua orang ini dengan nama). Mereka dijodohkan tetapi mereka sama-sama suka dijodohkan satu sama lain.

Suatu hari, Nuraeni meminta Komar untuk selalu mengiriminya surat setiap minggu karena waktu itu, Komar bekerja jauh dari kampung halaman mereka dimana hanya setahun sekali ia pulang, yaitu saat Lebaran. Nuraeni selalu menanti kedatangan surat-surat tersebut dengan hati berbunga-bunga dan tidak sabaran. Tetapi nyatanya surat-surat itu tidak pernah ada hingga Lebaran kembali datang. Kekecewaan itu membuat Nuraeni tidak simpatik lagi dengan Komar akibatnya pertemuan mereka yang selanjutnya Nuraeni bersikap lebih dingin. Sementara Komar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak membahas alasannya tidak pernah mengirim surat. Permusuhan itu terus berlanjut tiada henti. Bahkan di malam pertama mereka pun permusuhan itu semakin jelas terlihat dan semakin hari permusuhan itu semakin menjadi-jadi.

Dari kisah itu saya mengambil kesimpulan (mohon dikoreksi bila saya keliru) bahwa Nuraeni dan Komar tidak saling terbuka. Padahal dalam menjalin hubungan sifat saling terbuka sangat penting. Andai saja Nuraeni menjelaskan kekecewaannya perihal surat-surat tersebut dan Komar yang menjelaskan alasannya tidak pernah mengirim surat, tentu hubungan mereka tidak akan sedingin ini. Bukankah jika ada masalah hal terbaik untuk mengatasinya adalah dengan membicarakannya secara baik-baik satu sama lain? Agar hal yang mengganjal di pikiran selama ini menjadi jelas.

Masalah surat itu kemudian membawa permasalahan yang semakin rumit. Akibat sering dipukuli (itulah sebabnya tadi saya bilang ada ‘pemicu lain’) membuat Nuraeni semakin membenci suaminya itu. Sementara Komar semakin menjadi-jadi melihat tingkah istrinya yang begitu cuek dengan dirinya dan tidak menghargai semua usaha yang telah ia lakukan. (mau bagaimana lagi? Rasa cinta Nuraeni terlanjur hilang).

Permasalahan yang semakin rumit itu dikarenakan rumah tangga mereka yang begitu hancur dan akhirnya membuat konflik utama dari buku ini muncul, yaitu Margio yang membunuh Anwar Sadat. Saya tidak akan cerita bagaimana hal itu terjadi, bagaimana bisa permasalahan yang sebelumnya membawa permasalahan lainnya. Biarlah Eka Kurniawan sendiri yang akan menjelaskannya lewat bukunya ini, LELAKI HARIMAU. Karena bukan bagian saya untuk menjelaskan hal itu, cerita ini bukan karya saya.

Saya terpukau dengan jalan pikiran Eka Kurniawan dalam membuat alur cerita buku ini. Membaca buku ini membuat saya sadar bahwa sifat saling terbuka sangat penting. Kalau ada masalah, diutarakan. Kalau ada hal yang mengganjal di hati diutarakan. Kalau ada hal yang tidak disukai dari seseorang, sampaikah hal itu pada orang yang bersangkutan. Bukan dengan mengubah sikap kita pada orang tersebut. Karena terkadang orang lain memang tidak sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan, untuk itulah dibutuhkan sifat saling terbuka. Memendam kekesalan dan masalah bukanlah hal yang baik.

Sementara memberi penjelasan juga hal yang penting meskipun orang yang bersangkutan tidak menanyakannya. Dalam buku ini, sebenarnya Komar sadar bahwa sikap Nuraeni yang berubah karena ia tidak mengirim surat. Namun ia tidak menjelaskannya pada wanita tersebut. Meskipun memang watak Komar yang bengis juga merupakan hal yang menyebabkan permasalahan dalam rumah tangga mereka selain surat tentunya.

Tapi bagi saya tetap saja masalah yang dibicarakan secara baik-baik meskipun tidak menyelesaikan masalah, setidaknya mengurangi ketegangan situasi. Itulah sebabnya sifat saling terbuka memang sangat penting.

Dari setiap kejadian kita bisa mengambil pelajaran, dan hal ini yang saya ambil dari cerita pada buku ini. Bagi yang sudah membaca buku ini mungkin bisa memberikan masukan tambahan atau lainnya di kolom komentar J

Crime

[Review] Lelaki Harimau - Eka Kurniawan

15.07




ISBN : 9786020324654

Judul : Lelaki Harimau

Penulis : Eka Kurniawan

Rilis : Desember 2015

Halaman : 190 hlm

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Bahasa : Indonesia

Genre : Indonesian Literature, Literary Fiction




Sinopsis :

Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motof-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. "Bukan aku yang melakukannya," ia berkata dan melanjutkan, "Ada harimau di dalam tubuhku." 



Review : 

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya,..

Begitulah kalimat awal dari buku ini. Tanpa saya duga, kalimat awal ini sekaligus menjadi ending dari buku ini. Ya, cerita awal dan akhir dari buku ini mengisahkan adegan yang sama, tentang Margio yang membunuh Anwar Sadat. 

Kalau dibandingkan dengan CANTIK ITU LUKA, sebenarnya Eka selalu memberi sebuah 'percikan' tentang endingnya meskipun pada CANTIK ITU LUKA tidak sama persis seperti pada Lelaki Harimau. Namun bagaimanapun saya tetap tidak menyadarinya. Itulah kehebatan dari seorang Eka Kurniawan. 

Sebenarnya, kalau dibentangkan secara lurus alur cerita Lelaki Harimau sangat pendek, hanya perihal Margio yang membunuh Anwar Sadat dengan leher yang hampir putus. Anwar Sadat mati, keluarganya berduka, masyarakat tercengang, dan Margio pun ditahan. Tidak ada investigasi atau tindakan lebih lanjut lainnya. Hanya sebatas itu. Beginilah sebenarnya alur cerita dari Lelaki Harimau ini. 

Namun penggunaan plot yang maju mundur dan pergantian sudut pandang (maksudnya disini pergantian sudut pandang tokoh, hampir sama seperti CANTIK ITU LUKA) membuat Lelaki Harimau seolah-olah tampak panjang. 

Setelah bercerita di awal, beliau membawa kita ke jalan cerita yang sama sekali beda. Seperti ingin membuat kita melupakan permasalahan yang terjadi di awal cerita. Awalnya kita akan bertanya-tanya kenapa Margio membunuh Anwar Sadat? Apa motifnya? Bagaimana ia membunuh? Apa hubungan mereka? Dan pertanyaan lain yang berseliwuran. Namun, kemudian kita akan dibawa lupa sebab Eka 'mempermainkan plot'. 

Dengan teknik yang digunakan beliau ini, membuat Lelaki Harimau tampak seolah-olah tidak beraturan. Ceritanya kemana-mana, namun hal itu justru menerangkan sebab-akibat dari konflik utama. 

Lewat teknik ini juga beliau secara perlahan mengungkap misteri tentang Margio yang membunuh Anwar Sadat. Bagaimana ia membunuhnya, siapa Anwar Sadat dan siapa Margio, kehidupan Margio sebelum ia membunuh dan kehidupan tokoh-tokoh lain (Komar Bin Syueb, Anwar Sadat, Nuraeni, Maharani), kenapa ia membunuh, hingga cerita bagaimana ia bisa menjadi seorang lelaki harimau. Kesemua cerita tersebut dimainkan secara maju-mundur, berpindah dari adegan satu ke adegan lainnya, perubahan sudut pandang, dan berpindah-pindah kamera. Saya begitu kagum dengan kemampuan penulis satu ini. 

Lewat Lelaki Harimau ini juga penulis memaparkan berbagai isu yang menjadi pemicu hampir semua permasalahan. Seperti yang ada pada sinopsis. Cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah. Semua itu bermula dari masalah sepele yaitu ; surat. Mungkin kesimpulan pembaca lain beda dengan saya, tapi setidaknya begitulah menurut saya. Masalah surat ini akan saya jelaskan di postingan berikutnya tentang pelajaran hidup yang bisa diambil dari buku Lelaki Harimau

Buku Lelaki Harimau ini hanya terdiri dari lima bab. Baru kali ini saya menemukan novel yang tidak lebih dari lima bab. Namun satu bab itu memiliki jumlah halaman yang cukup banyak ditambah lagi penggunaan narasi yang lebih banyak dibandingkan dialog membuat saya sedikit kewalahan membacanya. Lagi-lagi hampir sama dengan CANTIK ITU LUKA. Untuk menyelesaikan satu bab itu, saya membutuhkan waktu satu jam. Itupun saya fokus membacanya, tanpa gangguan apapun dan tanpa istirahat. 

Saya memang terlambat mengagumi karya-karya Eka Kurniawan. Namun tidak apa-apa, daripada tidak sama sekali. Saya mulai mengaguminya ketika mulai membaca CANTIK ITU LUKA. Sejak saat itu saya ingin sekali membaca karya-karya beliau. Masih banyak karyanya yang belum saya baca. Dan hal yang ingin sekali saya sampaikan bahwa melewati karya-karya Eka Kurniawan adalah hal yang begitu disayangkan. Karyanya terlalu memukau untuk dilewatkan. Seperti banyak review-an yang mengatakan kalau membaca karya Eka Kurniawan seperti membaca karya dari berbagai penulis dunia dan dijadikan satu. 

Sejauh ini, bagi saya tidak ada penulis Indonesia sebaik Eka Kurniawan. Itulah mengapa bagi saya beliau adalah penulis terbaik dari tanah air. 

Like us on Facebook

Flickr Images